ONE PIECE Adalah Cerminan Dari Kekecewaan Yang Muncul Akibat Sistem Kapitalis

0
20

OPINI | POLITIK

“Cerita One Piece mencerminkan kondisi di Indonesia, di mana segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat tertindas. Meski secara formal merdeka, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka karena kebijakan yang condong ke elit,”

Oleh : Anum

MENJELANG Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, publik dihebohkan oleh kontroversi mengenai pengibaran bendera bajak laut khas anime One Piece.

Seperti yang di lansir pada Metrotv News jakarta; Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut bahwa maraknya pengibaran bendera bertengkorak tersebut menjelang perayaan kemerdekaan berpotensi menjadi “upaya memecah belah bangsa” berdasarkan masukan dari sejumlah lembaga intelijen.

Jika kita cermati seruan untuk mengibarkan bendera bajak laut One Piece saat HUT RI ke-80 adalah cermin ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan.

Gerakan ini mungkin bukanlah bentuk makar, melainkan simbol bahwa rakyat mencintai negeri ini, namun tidak rela negerinya terus di dera penderitaan akibat ulah oligarki.

Cerita One Piece mencerminkan kondisi di Indonesia, di mana segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat tertindas. Meski secara formal merdeka, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka karena kebijakan yang condong ke elit.

Bisa kita saksikan bagaimana keadaan di negeri ini, banyak kasus-kasus yang menzolimi rakyat, seperti tingginya pajak dan di berinya amnesti pajak pada elit. Koruptor yang di lakukan oleh para kader-kader penguasa yang menyebabkan kerugian pada negeri dengan kerugian yang sangat besar yang di tanggung oleh rakyat. Dan masih banyak lagi kasus kasus yang membuat kekecewaan terhadap hukum yang ada saat ini.

Akar masalah negeri ini sejatinya adalah sistem Kapitalisme. Penerapan sistem kapitalisme telah melahirkan kesenjangan sosial yang tajam. Kebijakan dibuat demi kepentingan elite, sehingga rakyat terus tercekik oleh kezaliman struktural, mirip dengan sistem dunia dalam cerita One Piece yang penuh korupsi dan penindasan.

Namun demikian, sebagai seorang Muslim, kita tidak bisa serta-merta memuja sebuah simbol hanya karena ia populer di layar kaca. Sebabnya, dalam Islam, setiap simbol memiliki muatan nilai. Tentu tidak semua simbol dan nilai sejalan dengan aqidah dan syariah Islam.

Umat harus disadarkan bahwa problem mendasar yang dihadapi adalah penerapan sistem buatan manusia, bukan dari Allah. Hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, umat akan terbebas dari kemudharatan sistem kapitalisme.

Islam diturunkan bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi sebagai sistem hidup yang menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan.

Kesadaran rakyat yang mulai muncul harus diarahkan kepada perjuangan hakiki: mengubah sistem kapitalisme menuju penerapan sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Bukan sekadar simbolik, tetapi perlawanan yang terarah dan terukur melalui dakwah dan perubahan sistem.

Maka dari itu, perjuangan kita tidak cukup berhenti pada menyaring tontonan atau mengkritik simbol budaya. Perjuangan kita adalah mengembalikan seluruh kehidupan umat ini di bawah naungan Islam, dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘alaa minhaaj an-nubuwwah. Khilafah inilah yang akan: (1) Menghapus simbol-simbol bathil dari ruang publik; (2) Mengembalikan kehormatan syiar-syiar Islam; (3) Mempersatukan negeri-negeri Muslim; (4) Menerapkan hukum Allah secara menyeluruh. Wa’allahu a’lam bishowab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah