GENOSIDA DI GAZA DAN PERAN UMMAT

0
19
Foto : Dok.voaindonesia.com

OPINI | POLITIK | MANCANEGARA

“Israel telah menutup semua pintu masuk ke Gaza. Mereka juga mencegah semua barang, yakni makanan, bahan bakar dan obat-obatan agar tidak bisa masuk. Blokade tersebut telah memutus pasokan obat-obatan penting, vaksin dan peralatan medis yang dibutuhkan untuk perawatan kesehatan,”

Oleh : Vanissa Maudiya S.S

SAMPAI saat ini genosida yang terjadi di Gaza masih terus berlanjut. Seolah tanpa henti kini serangan pun tidak hanya dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer dan menyakiti fisik secara nyata saja. Namun pelaparan masal juga termasuk rencana yang dilakukan oleh Israel untuk melancarkan aksinya itu, yakni menghabisi seluruh rakyat Palestina tanpa belas kasih.

Malnutrisi, kelaparan dan pembunuhan dekat lokasi bantuan di Gaza semakin hari semakin menghawatirkan. Ratusan orang dilaporkan tewas dalam beberapa pekan terakhir. Seorang Direktur Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Dr. Mohammed Abu Salmiya mengatakan 21 orang anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan diseluruh wilayah tersebut dalam 72 jam terakhir dan kini jumlah kematian semakin meningkat. (BBC Indonesia News)

Diketahui pada Maret lalu, Israel telah menutup semua pintu masuk ke Gaza. Mereka juga mencegah semua barang, yakni makanan, bahan bakar dan obat-obatan agar tidak bisa masuk. Blokade tersebut telah memutus pasokan obat-obatan penting, vaksin dan peralatan medis yang dibutuhkan untuk perawatan kesehatan.

Walau sejak pertengahan bulan Mei, truk berisi bantuan kemanusiaan perlahan telah memasuki Gaza dari Israel. Namun masuknya bantuan itu pun hanya sebatas simbolik saja. Bahkan ada hal tragis lainnya yang terjadi. Serangan harian yang bahkan tidak tahu dari mana peluru-peluru itu berasal, tiba-tiba muncul dan menembak kepala atau bahkan organ lainnya pada rakyat yang sedang mengejar bantuan untuk bertahan hidup itu.

Sungguh, terlihat jelas bahwa Zionis benar-benar tidak memberikan kesempatan bagi rakyat Palestina untuk bertahan walau hanya sebentar. Kebiadaban mereka makin meningkat, bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seolah mereka bukan manusia, membiarkan krisis kelaparan yang sangat mengerikan. Gaza dengan 2 juta jiwa yang terjebak dalam blokade merasakan kelaparan sangat hebat dan menjadikan kelaparan sebagai alat genosida adalah perbutan yang sangat keji.

Hal ini terlihat makin nyata, bahwa kekejaman Zionis tidak cukup hanya dengan retorika dan bantuan kemanusiaan semata. Apalagi Zionis senantiasa dibela oleh AS dan veto AS. Peran PBB juga tidak terlihat nyata, hanya sebatas pormalitas saja. Belum lagi pemimpin Muslim yang mati rasa, abai pada seruan Allah dan RasulNya, hanya sebagai boneka bagi tuannya.

Sejatinya yang ditanamkan oleh para penguasa yang berhianat hanyalah ilusi, membuat pasukkan ummat, para ulama dan rakyat pun akhirnya menyerah. Umat Islam telah termakan propaganda Barat yang akhirnya menjadikan mereka lemah. Padahal umat memiliki kekuatan besar yang bersumber dari akidah yang kokoh. Sejarah panjang telah membuktikan bahwah umat memiliki kekuatan besar yang mampu menjadikan Khilafah sebagai Negara adidaya. Menjadi perisai bagi umat yang membutuhkan bantuan dan pertolongan, tidak akan membuat ketakutan namun hanya memberi rasa aman.

Situasi hari ini harus bisa digunakan sebagai sarana menyadarkan umat akan solusi hakiki untuk Palestina, yaitu jihad dan tegaknya Khilafah. Penyadaran harus terus dilakukan dan makin ditingkatkan, seiring dengan makin terbukti nyata kejahatan yang dilakukan Zionis.

Jamaah dakwah ideologis harus terus memimpin umat untuk mengembalikan kemuliaan yang akan terwujud ketika Khilafah tegak kembali. Kebangkitan pemikiran Umat harus diwujudkan sehingga akan terus berjuang mengikuti Thariqah dakwah Rasulullah SAW.

Pengemban dakwah juga harus meningkatkan keterampilan dalam berinteraksi dengan umat, dengan cara menggugah perasaan dan pemikiran umat, meningkatkan keyakinan dan istiqamah di jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah. Selain itu tetap selalu mendekatkan diri terus pada Allah sembari melayakkan diri menjadi hamba Allah yang pantas mendapatkan pertolongaNya. Wallahua’lam Bishshawab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah