OPINI | POLITIK | MANCANEGARA
“Fenomena pertentangan antara Trump-Netanyahu membuktikan bahwa koalisi musuh-musuh Islam sejatinya dibangun atas kepentingan duniawi semata,”
Oleh : Suci Rizki Dumiarsih
PERSAHABATAN politik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya terlihat begitu solid. Keduanya saling mendukung, memuji, dan bersama menunjukkan permusuhan terhadap Iran dan Palestina secara khusus, serta kaum muslim secara umum.
Namun demikian, seperti yang telah dilaporkan oleh berbagai media, hubungan yang tampak “mesra” ini ternyata pecah seketika begitu kepentingan pribadi dan nasional mereka tidak lagi sejalan.
Hal ini terlihat dari Netanyahu yang ingin mengambil peluang untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran, sedangkan di lain pihak, Trump lebih memilih peluang menghilangkan ancaman Iran memperoleh senjata nuklir dengan membuat kesepakatan.
Perbedaan kepentingan lain di antara keduanya, yaitu Yahudi menyerang Gaza dengan serangan militer baru, sedangkan Trump mendorong gencatan senjata dan berupaya untuk melaksanakan rencana pascaperangnya untuk membangun kembali wilayah tersebut menjadi “Rivieranya Timur Tengah”.
Negara-negara Muslim saat ini saling mencurigai, saling menekan, dan bahkan mendukung penjajahan atas saudaranya sendiri, semua demi menjaga relasi dengan negara-negara adidaya. Inilah hasil dari politik tanpa akidah.
Inilah potret perpecahan umat yang dijajah pemikiran Barat.
Fenomena pertentangan antara Trump-Netanyahu membuktikan bahwa koalisi musuh-musuh Islam sejatinya dibangun atas kepentingan duniawi semata. Ketika arah strategi dan tujuan pribadi mereka berbeda, ikatan pun hancur. Inilah hakikat dari politik sekuler—semua persekutuan hanya sebatas manfaat, yang akan gugur begitu manfaat itu sirna. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah.” (QS. Al-Hasyr: 14). Ayat ini dengan jelas menyingkap tabir rapuhnya barisan musuh-musuh Allah, meski secara kasatmata mereka terlihat kokoh.
Ulama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan realitas perpecahan seperti ini di dalam kitab Mafahim Siyasiyati lihizbi At-Tahrir. Beliau melukiskan upaya negara-negara Blok Barat dalam memperebutkan pengaruh mereka di Timur Tengah.
“Blok Barat sebagai satu kesatuan sebenarnya terpecah belah dan saling berkompetisi satu sama lain. Ini menyebabkan terjadinya perselisihan, perbedaan pandangan di antara sesama negaranya, perlombaan di antara mereka untuk meraih keuntungan, dan saling melakukan tipu daya satu sama lain.”
Begitulah lemahnya ikatan musuh-musuh Islam, persahabatan mereka hanyalah karena manfaat yang bisa saling mereka dapatkan semata. Ikatan manfaat ini sungguh tidak layak untuk dijadikan dasar persatuan.
Sebaliknya, umat Islam memiliki modal besar yaitu ikatan akidah Islam, yang dengannya akan mampu mengguncang dunia. Ikatan akidah Islam bukanlah ikatan yang dibangun atas dasar manfaat duniawi. Ia adalah ikatan yang melahirkan persaudaraan sejati, kokoh, dan tak lekang oleh waktu maupun ujian.
Sejarah Islam mencatat bahwa ikatan ini mampu menyatukan suku Aus dan Khazraj yang telah bertikai selama puluhan tahun, menjadikan mereka sebagai kaum Anshar yang mendukung penuh perjuangan Rasulullah saw. Ketika kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan, mereka rela berbagi harta, tempat tinggal, bahkan nyawa.
Hal ini bukan karena kepentingan ekonomi atau politik, tetapi semata karena mereka diikat oleh keyakinan yang sama: tauhid kepada Allah, dan loyalitas total kepada Islam.
Jika musuh-musuh Islam bisa runtuh karena tidak ada ikatan akidah di antara mereka, mengapa umat Islam tidak membangun kekuatan dengan ikatan akidah Islam?
Kesadaran umat bahwa mereka memiliki kekuatan besar dan potensi untuk memimpin dunia hanya akan tumbuh apabila dibangun di atas pemahaman Islam yang benar.
Umat perlu menyadari bahwa problem utama mereka bukan hanya karena adanya konspirasi dari musuh-musuh Islam, tetapi juga karena jauhnya mereka dari akidah Islam sebagai asas kehidupan. Ketika umat mulai tersadarkan dan bergerak bersama dalam kesatuan akidah dan perjuangan, saat itulah energi umat akan menjadi kekuatan yang nyata. Kesadaran kolektif ini adalah fondasi untuk mengembalikan kehidupan Islam secara menyeluruh.
Umat Islam tidak akan pernah benar-benar bangkit kecuali dengan kembali kepada metode kenabian dalam menerapkan Islam secara kaffah. Hanya sistem Khilafah yang memiliki legitimasi syar’i dan kekuatan politik untuk menghimpun seluruh potensi umat dari seluruh penjuru dunia di bawah satu komando, membebaskan negeri-negeri Islam yang dijajah, menghentikan pengaruh asing di negeri Muslim, menggunakan kekuatan militer untuk membela kaum tertindas dan mengusir penjajah dari bumi Palestina.
Rasulullah saw. telah menjanjikan akan kembalinya kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian: “Kemudian akan ada Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah …” (HR. Ahmad). Ini bukan sekadar impian, tetapi janji nubuwwah yang pasti terjadi.
Sehingga, persatuan inilah yang harus dibangun oleh umat Islam sebagai potensi besar yang mereka miliki yaitu sebuah potensi yang hanya akan terwujud jika mereka bersatu di bawah satu akidah, satu sistem, dan satu pemimpin yakni Khilafah Islamiyyah yang akan membawa rahmat dan kemuliaan bagi seluruh dunia. (**)
*Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Indonesia


















