Perang Gaza dan Tahun Baru 1447 Hijriah, Momentum Satukan Umat

0
295
Amrullah Andi Faisal/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK | MANCANEGARA

“Perang Gaza telah membuka luka kolektif umat yang belum pernah sembuh. Di balik puing-puing rumah yang hancur dan jenazah syuhada yang berserakan, terbentang pertanyaan besar, di mana kekuatan dunia Islam?,”

Oleh : Amrullah Andi Faisal

TAHUN baru Hijriyah kembali menyapa umat Islam. 1 Muharram 1447 Hijriah lebih sekadar penanda pergantian tahun, namun menjadi momen yang menggugah kesadaran umat tentang pentingnya persatuan dan kekuatan politik Islam sedunia.

Ditambah pula dengan tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, dengan ribuan umat Islam, termasuk kanak-kanak dan wanita, menjadi mangsa kekejaman entitas Zionis. Tahun baru ini sepatutnya menjadi kesempatan untuk menilik diri dan berbenah, alih-alih larut dalam kegembiraan semata.

Perang Gaza telah membuka luka kolektif umat yang belum pernah sembuh. Di balik puing-puing rumah yang hancur dan jenazah syuhada yang berserakan, terbentang pertanyaan besar, di mana kekuatan dunia Islam? Mengapa negeri-negeri Muslim hanya mampu mengutuk tanpa tindakan nyata? Kenapa bala tentara umat yang berjumlah jutaan tak bergerak menolong saudara seaqidah di Gaza?

Jawabannya jelas, umat ini telah lama kehilangan institusi pelindungnya. Hilangnya Khilafah Islamiyah sebagai lembaga politik global umat membuat umat tercerai-berai, tanpa kepemimpinan tunggal yang mengatur urusan kita, menjaga darah kita, serta mengayomi kehormatan kita. Tiadanya khilafah menjadikan dunia Islam ibarat tubuh tanpa kepala, sehingga mudah diinjak, dianiaya, bahkan dihinakan oleh musuh-musuh kita.

Tahun baru Hijriyah adalah warisan sejarah perjuangan Rasulullah SAW yang menandai hijrah beliau dari Makkah ke Madinah, bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga momentum transformasi umat dari kelompok tertindas menjadi kekuatan politik yang kokoh. Islam ditegakkan di Madinah sebagai sistem hidup yang sempurna, dengan Rasulullah SAW sebagai kepala negara pertama dalam sistem khilafah. Dakwah Islam menyebar dari sana ke seluruh jazirah Arab, lalu menembus Persia, Romawi dan seluruh penjuru dunia.

Kini, 1447 tahun setelah hijrah Nabi, umat justru hidup di bawah dominasi ideologi sekuler dan sistem kapitalis global. Negara-negara Muslim berdiri secara nasionalistik, lemah secara politik dan tunduk pada penguasaan Barat. Padahal, selama hampir 13 abad sebelumnya, umat Islam bersatu di bawah satu panji, satu khalifah dan satu negara yang menaungi beragam suku, mazhab dan bangsa.

Khilafah bukan nostalgia sejarah. Ia merupakan kewajiban syar’i dan kebutuhan mendesak umat hari ini.

Khilafah sebagai entitas yang akan menggerakkan kekuatan militer untuk restorasi hak-hak Palestina, memulangkan pendudukan dari tanah yang disucikan, serta menggalang kapasitas ekonomi, militer dan politik umat Islam menjadi sebuah daya tawar global yang diperhitungkan. Khilafah akan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, mewujudkan keadilan sosial, menjamin pendidikan dan kesehatan gratis, serta menghentikan penjajahan ekonomi oleh korporasi global.

Perang Gaza adalah cermin keterpecahan umat. Tahun baru Hijriyah merupakan penanda kesadaran untuk bangkit. Sudah saatnya umat mengalihkan energi dari perayaan simbolik menuju perjuangan substantif. Darah di Gaza dan tempat-tempat lain akan terus mengalir sia-sia, selama khilafah belum tegak. Namun bila umat bersatu dalam satu kepemimpinan politik Islam, kemenangan hanya soal waktu.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim, “Sesungguhnya Imam itu laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” Maka, tegaknya khilafah adalah jalan satu-satunya untuk kembali menjadi umat terbaik, memimpin peradaban dan membebaskan seluruh wilayah yang tertindas, dari Gaza hingga Xinjiang dari Kashmir hingga Suriah.

Tahun baru 1447 Hijriyah ini, marilah kita jadikan sebagai titik balik sejarah. Momentum untuk menyatukan kembali umat Islam dalam satu institusi pemersatu: Khilafah Islamiyah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Sebab hanya dengan itulah, kemuliaan akan kembali, darah kaum Muslimin tidak lagi tertumpah sia-sia.Tahun baru Hijriyah adalah alarm kesadaran untuk bangkit. (**)

*Penulis Adalah Statistisi Ahli dan Pegiat Literasi