Sekolah Rakyat : Solusi Nyata Mengentaskan Kemiskinan?

0
96
Ilustrasi/Ist.

OPINI | POLITIK

“SR tidak hanya memberikan pengetahuan dasar, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang kuat. Lulusan SR diharapkan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga bekal untuk menciptakan peluang kerja atau usaha, sehingga mereka tidak lagi terjebak dalam siklus kemiskinan yang dialami orang tua mereka,”

Oleh : Hanifah Fatiin Lubis

APAKAH kalian tahu bahwa Sekolah Rakyat (SR) hadir sebagai inisiatif penting untuk memutus rantai kemiskinan yang seringkali menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Alih-alih hanya berfokus pada pendidikan formal, SR dirancang dengan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal, membekali anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan keterampilan praktis, literasi finansial, dan pemahaman kewirausahaan sejak dini.

Dengan demikian, SR tidak hanya memberikan pengetahuan dasar, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang kuat. Lulusan SR diharapkan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga bekal untuk menciptakan peluang kerja atau usaha, sehingga mereka tidak lagi terjebak dalam siklus kemiskinan yang dialami orang tua mereka.

Melalui pendekatan holistik ini, SR menjadi jembatan bagi anak-anak miskin untuk meraih masa depan yang lebih cerah, menjadikan pendidikan sebagai kunci utama untuk keluar dari jurang kemiskinan secara permanen.

Sekolah Rakyat, menurut Gus Ipul, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf, mencerminkan semangat negara untuk memberikan akses pendidikan yang adil bagi semua anak Indonesia. Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA), ia berdialog langsung dengan para siswa dalam suasana yang akrab dan menyemangati mereka untuk terus belajar dengan disiplin (Detik.com, 21/07/2025).

Salah satu siswa yang menjadi perhatian adalah Ramadhan Putra Setyawan (15) dari Jebres, Surakarta, yang memiliki cita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran.

Ramadhan, yang tinggal bersama keluarganya, termasuk sang ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan, mengungkapkan kegembiraannya bisa tinggal di asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA). Dialog hangat juga terjadi bersama Syifa Pradista (15), siswi asal Banjarsari, Surakarta. Ketika diminta menyampaikan pesan kepada orang tuanya, Syifa tampak tak kuasa menahan haru.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, dalam kunjungannya ke SRMA 15 Magelang, memastikan seluruh kebutuhan dasar para siswa seperti tempat tinggal, makan, dan pakaian, telah disediakan secara cuma-cuma. Ia juga turut memantau langsung kondisi asrama dan menyempatkan makan malam bersama para siswa.

Dukungan ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto agar siswa dapat belajar dengan tenang tanpa terbebani persoalan ekonomi.

Mengapa Pendidikan Saja Tak Cukup untuk Memutus Rantai Kemiskinan ?
Meskipun program Sekolah Rakyat (SR) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto bertujuan mulia untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, program ini sejatinya tidak dapat menyelesaikan akar permasalahan kemiskinan yang ada. Kemiskinan yang terjadi saat ini lebih bersifat struktural, di mana sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil menjadi penyebab utamanya. Dengan kata lain, pendidikan yang berkualitas saja tidak cukup untuk memutus rantai kemiskinan.

Kemiskinan yang kita hadapi saat ini lebih dominan bersifat struktural, di mana sistem sosial dan ekonomi yang ada—dianggap sebagai hasil dari sistem kapitalisme—menempatkan negara hanya sebagai regulator bagi kepentingan segelintir oligarki, bukan sebagai pengurus utama kesejahteraan rakyat.

Dengan demikian, pendidikan berkualitas saja tidak cukup untuk memutus rantai kemiskinan jika negara tidak mengambil peran aktif dalam menjamin layanan pendidikan dan kesejahteraan bagi semua warganya. Meskipun SR memberikan pendidikan gratis, program ini dianggap sebagai solusi tambal sulam.

Fokusnya hanya pada rakyat miskin, sementara masalah fundamental pada sekolah negeri, seperti kualitas sarana, prasarana, dan tenaga pendidik, masih jauh dari ideal. Hal ini menunjukkan bahwa SR, mirip dengan kebijakan populis lain seperti MBG, belum mampu memberikan solusi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap persoalan masyarakat.

Bagaimana sih cara islam menghadapi permasalahan fenomena Sekolah Rakyat untuk Mengentaskan Kemiskinan dalam sistem kapitalisme ini dan apa solusinya ?

Sudut pandang Islam dalam menghadapi fenomena Sekolah Rakyat (SR) dalam sistem kapitalisme menawarkan solusi yang menyeluruh dan fundamental, bukan sekadar solusi parsial. Islam menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas pendidikan berkualitas adalah pada negara. Negara Islam harus menyediakan pendidikan terbaik untuk seluruh rakyat, tanpa memandang status sosial atau ekonomi.

Baik miskin maupun kaya, semua berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sama baiknya dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, dengan seluruh biaya ditanggung oleh negara. Dana untuk pembiayaan ini tidak menjadi masalah, sebab negara Islam memiliki sumber pemasukan yang mumpuni, seperti zakat, sedekah, wakaf dan jizyah yang dikelola dengan baik.

Selain itu, peran negara dalam Islam tidak terbatas pada pendidikan. Konsep negara sebagai Peran negara sebagai pengurus (ra’in). Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pangan secara gratis dan berkualitas tinggi untuk semua, bukan hanya bagi yang miskin. Ini dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan seluruh sistem sekolah negeri, bukan sekadar membuat program terpisah.

Sistem ekonomi Islam yang adil. Islam mengatur distribusi kekayaan melalui zakat, yang dikelola oleh negara untuk memberantas kemiskinan secara sistematis.

Selain itu, Islam melarang riba dan monopoli demi menciptakan ekonomi yang transparan dan saling menguntungkan.

Islam juga menekankan pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan dan modal usaha, alih-alih hanya memberikan bantuan. pendidikan sebagai pilar pembangunan manusia. Pendidikan adalah hak semua individu dan kewajiban negara.

Negara harus menyediakan pendidikan yang merata dan berkualitas di seluruh jenjang, dengan kurikulum yang komprehensif, mencakup ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Tujuannya adalah melahirkan individu yang mandiri, berilmu, dan mampu menjadi agen perubahan dalam masyarakat.

Dalam konsep Islam, peran negara juga sangat fundamental sebagai Junnah (pelindung). Ini berarti negara tidak hanya bertanggung jawab menjaga keamanan, tetapi juga wajib menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya dan ketersediaan lapangan kerja yang layak.

Tanggung jawab ini menuntut negara untuk tidak hanya menjadi regulator pasif dalam sistem ekonomi, melainkan menjadi aktor utama yang aktif mengelola sumber daya dan menciptakan stabilitas ekonomi untuk kepentingan publik.

Peran ideal negara Islam hanya dapat terwujud melalui penerapan syariat secara kaffah (menyeluruh). Penerapan syariat ini bukan hanya pada aspek ibadah, melainkan juga pada sistem ekonomi, sosial, dan politik.

Dengan sistem ekonomi yang berlandaskan syariat, seperti larangan riba, monopoli, dan penimbunan harta, negara dapat menciptakan keadilan distributif yang mencegah konsentrasi kekayaan pada segelintir elite. Melalui mekanisme ini, kemiskinan dan pengangguran dapat diatasi secara struktural, bukan sekadar meringankan gejalanya.

Oleh karena itu, permasalahan kemiskinan tidak dapat diselesaikan dengan program “tambal sulam” seperti Sekolah Rakyat (SR), melainkan membutuhkan perubahan sistem yang menempatkan negara sebagai pelayan dan pelindung sejati bagi seluruh rakyatnya. (**)

*Sumber :
https://news.detik.com/berita/d-8019853/wamensos-pastikan-kebutuhan-siswa-siswi-sekolah-rakyat-terpenuhi

https://news.detik.com/berita/d-8021177/mensos-minta-siswa-sekolah-rakyat-disiplin-insyaallah-jadi-orang-sukses
Akses Jurnal Ijtihad di Sinta Ristekbrin
Akses Jurnal El-Siyasah di E-Journal UINSU
Akses Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah BI
Artikel IMF tentang Prinsip Keuangan Islam

*Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Gunadarma