OPINI | POLITIK
“Jika kita menilik keadaan hari ini, semangat itu seperti kehilangan arah. Kita memang merdeka dari penjajahan fisik, tapi masih terjajah dalam banyak hal: pemikiran, budaya, ekonomi, bahkan gaya hidup,”
Oleh : Novia Riawati
SETIAP 28 Oktober, bangsa ini kembali mengulang upacara kenangan. Lagu “Bangun Pemudi Pemuda” berkumandang, bendera dikibarkan, dan kata “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” kembali dilafalkan dengan semangat seremonial.
Tapi setelah semua berakhir, pertanyaan itu selalu Kembali : apakah sumpah itu masih hidup, atau hanya tinggal slogan di baliho?
Sumpah Pemuda lahir dari semangat kesatuan dan kebangkitan, tekad anak muda yang muak dijajah, dan ingin menegakkan martabat bangsanya. Namun jika kita menilik keadaan hari ini, semangat itu seperti kehilangan arah. Kita memang merdeka dari penjajahan fisik, tapi masih terjajah dalam banyak hal: pemikiran, budaya, ekonomi, bahkan gaya hidup.

Dulu Melawan Penjajah, Kini Bingung Melawan Diri Sendiri
Pemuda dulu menolak dijajah oleh bangsa asing. Pemuda kini justru dijajah oleh hawa nafsu, hedonisme, dan arus liberalisasi. Dulu mereka memperjuangkan tanah air, kini banyak yang sibuk mencari eksistensi di dunia maya. Dulu mereka mengangkat pena dan bambu runcing, kini terlalu banyak yang mengangkat kamera untuk konten tanpa makna.
Padahal, semangat sejati Sumpah Pemuda bukan hanya tentang kebersamaan dalam satu bangsa, tapi juga tentang arah perjuangan. Persatuan tanpa tujuan adalah barisan kosong. Persatuan tanpa nilai adalah rapuh. Dan hari ini, kita seperti kehilangan arah perjuangan itu.
Kebangkitan yang Tak Akan Lahir dari Sistem yang Lumpuh
Kita sering memuja kata “kebangkitan pemuda”, tapi jarang menanyakan bangkit untuk apa, dan menuju ke mana?
Sistem yang ada hari ini justru membuat banyak pemuda kehilangan idealisme. Pendidikan hanya menyiapkan mereka untuk menjadi pekerja, bukan pemimpin. Media mengajarkan gaya hidup bebas, bukan tanggung jawab sosial. Dan politik hanya menawarkan kursi, bukan visi besar. Kebangkitan sejati tak akan lahir dari sistem yang sekuler dan materialistik, sistem yang menilai kesuksesan dari harta, bukan kontribusi; dari jabatan, bukan perjuangan.
Pemuda dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, pemuda bukan sekadar generasi penerus, tapi pelanjut risalah. Mereka adalah penggerak perubahan. Kita mengenal Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda beriman yang menolak tunduk pada kekuasaan zalim. Kita mengenal Ali bin Abi Thalib, yang di usia remaja sudah berani menggantikan posisi Rasulullah ﷺ di ranjang hijrah. Kita mengenal Mus’ab bin Umair, pemuda kaya yang rela meninggalkan kemewahan demi dakwah Islam. Itulah potret pemuda sejati bukan hanya berani melawan penjajahan, tapi berani melawan sistem rusak dan menegakkan kebenaran.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Menunaikan Sumpah yang Sebenarnya
Sumpah Pemuda seharusnya bukan sekadar kenangan sejarah, tapi panggilan jiwa. Pemuda hari ini harus berani menuntaskan sumpah itu bukan hanya dengan menjaga persatuan bangsa, tapi juga dengan memperjuangkan kemerdekaan sejati yaitu kemerdekaan dari sistem yang menindas, dari nilai-nilai sekuler yang memisahkan Tuhan dari kehidupan.
Kita membutuhkan pemuda yang bukan sekadar aktif, tapi berdiri tegak di atas prinsip. Bukan pemuda yang hanya pandai berorasi, tapi yang mampu menyalakan cahaya iman di tengah kegelapan zaman.
Karena sesungguhnya, sumpah sejati seorang pemuda bukan hanya pada tanah airnya, tapi pada Rabb-nya. Dan dari sana, lahirlah kekuatan yang mampu mengguncang dunia. Wallahu a’lam Bish Shawab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Muslimah dan Karyawati


















