Tragedi Ibu Bunuh Dua Anak di Bandung : Potret Kelam Kesenjangan dan Solusi Islam

0
53

OPINI | HUKUM | EKONOMI

“Tragedi ini bukan kasus tunggal. Sudah banyak berita serupa yaitu orang tua bunuh anak lalu bunuh diri, atau anak tega menghabisi orang tua karena masalah uang. Itu semua tanda bahwa sistem yang ada gagal menjamin kesejahteraan rakyat,”

Oleh : Selvi Safitri

JUM’AT dini hari, 5 September 2025, warga Kampung Cae, Desa Kiangkroke, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, digemparkan oleh tragedi memilukan. Seorang ibu berinisial EN ( 34 ) ditemukan gantung diri di rumah kontrakannya. Lebih mengejutkan, dua anaknya, AA ( 9 ) dan AP ( 11 bulan ), sudah tak bernyawa di tempat tidur dengan bekas jeratan.

Sang suami, Yadi Suryadi ( 35 ), buruh pembuatan aspal, yang pertama kali menemukan rumah terkunci rapat, dan di dalamnya terdapat sepucuk surat tulisan tangan. Dalam surat EN meminta maaf karena merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan anak – anaknya, terjerat utang, dan dihimpit kemiskinan. ( Kompas, 5 – 6 September 2025 ).

Selvi Safitri/Foto : Ist.

Kasus ini membuka mata kita tentang dalamnya jurang kesenjangan ekonomi di Indonesia. Banyak keluarga kecil seperti EN dan Yadi yang hidup dari upah minim, tanpa jaminan sosial yang memadai, serta terus dibebani harga kebutuhan yang tinggi. Disisi lain, segelintir orang hidup bergelimang harta.

Kemiskinan structural seperti ini membuat sebagian rakyat kehilangan harapan. Ketika beban ekonomi menumpuk, jalan pintas tragis seperti bunuh diri dan mengakhiri hidup anak – anaknya dianggap solusi, meski jelas keliru.

Tragedi ini bukan kasus tunggal. Sudah banyak berita serupa yaitu orang tua bunuh anak lalu bunuh diri, atau anak tega menghabisi orang tua karena masalah uang. Itu semua tanda bahwa sistem yang ada gagal menjamin kesejahteraan rakyat.

Islam memandang kemiskinan bukan sekedar masalah individu, tapi masalah sistem yang harus ditanggung negara. Ada beberapa solusi kunci yang ditawarkan islam, pertama negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap rakyatnya. Setiap rakyat berhak atas sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Rasulluallah bersabda “ Imam ( khalifah ) adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya ( HR. Bukhari dan Muslim ). Artinya, seorang ibu tidak boleh sampai merasa sendirian menanggung beban hidup keluarganya.

Kedua pengelolaan sumber daya alam untuk rakyat. Dalam islam kekayaan alam ( air, energy, tambang, hutan ) tidak boleh dikuasai swasta atau asing. Semua dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan ini, rakyat tidak perlu hidup miskin dinegara kaya.

Ketiga sistem zakat dan baitul mal. Zakat dikelola negara dan disalurkan kepada yang berhak, termasuk fakir miskin, janda, dan anak yatim. Jika masih kurang, negara mengambil dari pos – pos pemasukan lain untuk menjamin hidup rakyat. Jadi, tidak ada keluarga yang dibiarkan terjerat hutang lalu berputus asa.

Keempat, pencegahan bunuh diri dengan iman dan lingkungan islam. Islam menegaskan bunuh diri adalah dosa besar. Lingkungan masyarakat harus saling peduli, menguatkan dan tidak membiarkan tetangga kelaparan. Rasuluallah bersabda “ Tidak beriman eseorang yang kenyang sementara tetangganya lapar disampingnya, sedangkan ia tahu “ ( HR. Bukhari ). Dengan nilai ini, setiap keluarga akan merasa diperhatkan bukan ditinggalkan.

Tragedi ibu di bandung yang menghabisi dua anaknya lalu bunuh diri adalah alarm keras tentang rapuhnya sistem ekonomi sekuler saat ini. Kemiskinan, utang, dan kesenjangan terus menjerat rakyat kecil, sementara negara tak mampu seolah memberi perlindungan.

Islam menawarkan solusi yang meneyeluruh. Negara yang hadir nyata mengurus rakyat, distribusi kekayaan yang adil, serta lingkungan sosial yang peduli dan berlandaskan keimanan. Dengan penerapan islam secara kaffah, tragedy memilukan seperti di Bandung takkan berulang. (**)

*Penulis Adalah Mahasiswa Sastra Jepang USU