Fantasi Sedarah Dan Betapa Jauhnya Umat Dari Islam

0
52

OPINI | POLITIK

“Sangat mengerikan fenomena inses di tengah masyarakat kita. Sungguh sangat jauh dari klaim sebagai negara religius seperti yang selama ini digembar-gemborkan,”

Oleh : Fadhillah Khusnah S.Pd

BEBERAPA waktu lalu, publik digegerkan dengan grup Facebook yang bernama Fantasi Sedarah. Grup tersebut berisi ungkapan hati para anggotanya tentang imajinasi mereka terhadap anggota keluarga mereka sendiri, mulai dari adik, kakak, bahkan ibu mereka.

Dilansir dari berbagai sumber, grup inses dengan sekitar 32.000 anggota tersebut sempat mengganti nama grupnya yakni Suka Duka. Dikutip dari BisnisUpdate.com, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menghubungi Meta dan platform yang mereka operasikan, yakni Facebook.

Diketahui pula bahwa pihak Meta telah merespons keluhan pemerintah serta menghapus akses ke enam grup Facebook yang mempromosikan konten serupa. Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meminta polisi mengusut kasus itu, sebab konten-konten didalamnya mengandung unsur eksploitasi seksual dan sangat meresahkan masyarakat (news. Republika.co.id).

Tidak ketinggalan Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan mendesak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus yang sedang viral tersebut secara keseluruhan.

Komnas Perempuan menyatakan melalui salah satu pengurusnya bahwa meskipun grupnya sudah dibubarkan, tidak berarti pelakunya mustahil untuk dilacak. Mengingat pentingnya membasmi komunitas serupa agar tidak berkempang pesat dan menimbulkan keresahan diruang publik.

Sangat mengerikan fenomena inses di tengah masyarakat kita. Sungguh sangat jauh dari klaim sebagai negara religius seperti yang selama ini digembar-gemborkan. Malah, yang tergambar adalah keadaan sebaliknya, yaitu gambaran keji yang menunjukkan pengabaian terhadap aturan agama maupun masyarakat.

Masyarakat hidup bebas tanpa aturan, melakukan apapun demi kepuasan individu, terdidik dengan sistem rusak yang akhirnya membuat mereka tidak mengenal batas bahkan laksana binatang. Keluarga telah rusak, bahkan sistem keluarga muslim sudah runtuh.Inilah buah penerapan sistem sekuler kapitalisme.

Tanpa agama, maka yang berkuasa adalah hawa nafsu dan akal manusia yang lemah dan menyesatkan, rusak dan merusak. Bahkan sistem kapitalisme dengan liberalisasinya menjadikan rusaknya sendi-sendi kemuliaan manusia.

Negara kadang justru meruntuhkan dan merusak keluarga melalui kebijakan yang dibuatnya, seperti melegalkan situs tidak layak tonton seperti porno untuk diakses secara mudah oleh masyarakat dari lapisan dan jenjang usia apapun. Negara lalai dalam menjaga sendi kehidupan keluarga. Jauh berbeda dari sistem Islam yang mampu menjaga kehidupan keluarga yang juga menjadi pondasi kehidupan bernegara.

Islam adalah jalan hidup shahih, yang mengatur semua urusan manusia dan menjadikan rakyat sebagai pelaksana hukum syara. Islam mewajibkan negara untuk mengurus rakyat dalam semua aspek termasuk menjaga keutuhan keluarga dan norma-norma keluarga dalam sistem sosial sesuai dengan Islam. Islam menetapkan inses sebagai satu keharaman yang wajib dijauhi.

Negaralah yang menegaskan keharaman itu bersamaan dengan membangun keimanan yang kuat pada setiap individu. Negara menyiapkan berbagai langkah pencegahan termasuk membangun kekuatan iman dan takwa, dan menutup semua celah terjadinya keburukan ini.

Adanya amar makruf nahi munkar menjadi lapisan kedua dalam menjaga kemuliaan manusia. Sistem sanksi yang tegas akan membuat jera yang lain dan menjadi penebus bagi pelakunya kesucian keluarga akan terjaga jika sistem Islam diterapkan. Juga kebijakan media yang akan melarang dan memberantas bibit-bibit perilaku buruk agar umat jauh dari pelanggaran hukum syara yang akhirnya hanya membawa mereka kepada kesengsaraan. Wallahu’alam bishowwab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Muslimah