Gowok, Kamasutra Dari Bumi Ngapak

0
399
Foto : Ist.

OPINI | BUDAYA

“Gowok adalah perempuan yang dipakai jasanya untuk mengajarkan tata cara berhubungan seks kepada laki-laki remaja sebelum menikah. Keluarga mempelai laki-laki menyewakan gowok menjelang dinikahkan – agar laki laki paham apa yang harus dilakukannya di ranjang – agar tak canggung,”

Oleh : Dimas Supriyanto

SAYA terkejut ketika cerita tentang kehidupan Gowok difilmkan. Di kampung saya, Banyumas, budaya Gowok sudah nyaris punah dan dilupakan. Utamanya setelah gegeran politik ‘65. Lebih terkejut ketika sutradaranya Hanung Bramantyo, sutradara kaliber Piala Citra FFI – yang sebelumnya menggarap film laris, monumental dan kolosal; ‘Habibi dan Ainun’, ‘Kartini’, ’Bumi Manusia” dan “Sultan Agung’.

Film diawali dengan adegan pergumulan di ranjang di antara laki laki dan ‘gendak’-nya, dilanjutkan dengan adegan berdarah darah, lantaran isteri sah murka setelah mendapati suaminya selingkuh dan dua pelaku pergumulan tewas mengenaskan. Bayi yang dilahirkan dan dilarikan perempuan, yang kemudian dibunuh itulah – yang berhasil diselamatkan – mengantarkan cerita masuknya film Gowok.

Gowok adalah perempuan yang dipakai jasanya untuk mengajarkan tata cara berhubungan seks kepada laki-laki remaja sebelum menikah. Keluarga mempelai laki-laki menyewakan gowok menjelang dinikahkan – agar laki laki paham apa yang harus dilakukannya di ranjang – agar tak canggung. Lebih dari sekadar memahami apa itu seks juga tata cara membahagiakan pasangan dengan pujian-pujian, selain sentuhan. Pengajarannya meliputi teori juga praktik.

Dalam tradisi Jawa, sebagai ‘Guru Laki’ para calon pengantin pria harus tahu cara memperlakukan perempuan. Di sanalah Gowok berperan. Dia dilatih. Calon mempelai laki-laki akan tinggal di rumah Gowok selama beberapa hari untuk kemudian menerapkan ilmu yang sudah diperoleh kepada istrinya.

Untuk jasanya itu, pihak keluarga akan memberikan upah yang nilainya konon sama dengan mahar untuk calon pengantin perempuan. Ditambah hadiah berupa uang atau apa pun sesuai keinginan gowok. Seorang Gowok berusia 20 sampai 40-an tahun dan tradisi ini pernah ditemui di daerah Purworejo, Blora, dan Banyumas.

Saya meyakini kisah Gowok yang difilmkan ini terpengaruh oleh novel “Ronggeng Dukuh Paruk” (Ahmad Tohari), yang mengisahkan Srintil si Ronggeng yang bernasib nestapa, karena digaet Gerwani dan masuk pusaran politik revolusi 1965. Srintil yang dikenal sebagai penari ronggeng diminta “menggowok” Waras, putra bangsawan Sentika yang tidak memiliki berahi.

Setidak tidaknya ada tiga literasi terkait dengan budaya Gowok, yaitu “Gowok” (1936) karya Liem Khing Hoo, “Ronggeng Dukuh Paruk” (1982) karya Ahmad Tohari, dan “Nyai Gowok” (2014) karya Budi Sardjono, yang menyibak tradisi tabu tapi nyata.

Dalam film ini, diungkap budaya gowok berasal dari Cina dan dibawa Goo Wook Niang yang datang ke Tanah Jawa bersama rombongan Laksamana Cheng Ho di masa Kerajaan Majapahit.

SAYA baru ‘ngeh’ ketika filmnya dimulai dengan dialog selepas adegan mencekam itu, menggunakan setting daerah Kebumen, dengan menggunakan dialog Jawa aksen Banyumasan. Jawa Ngapak! Untuk diketahui, wilayah Kabupaten Kebumen, Purbalingga, Pekalongan, Banyumas dan Cilacap, memang masuk kategori satu ‘Republik’, yaitu ‘Republik Ngapak’ dengan semboyan “Ora ngapak ora kepenak!”.
Maka betapa girang dan terharu saya menonton film ini. Kehormatan bagi warga ngapak cerita tentang Gowok difilmkan.

Bagi sebagian warga barangkali kehidupan Gowok merupakan aib. Bagi saya dan warga yang lain, itu fakta yang tak bisa dilupakan.

Sayangnya, dalam film ini, dialek ngapaknya “ciblang-ciblung”, campur aduk dan “wagu” – janggal. Saya maklum saja, pemain utamanya tidak ada yang berasal dari Republik Ngapak : Lola Amaria, Alika Jantinia, Devano Danendra, Raihaanun, Djenar Maesa Ayu, Reza Rahadian, Donny Damara, Ali Fikry, Slamet Rahardjo dan Nayla Purnama. Termasuk sutradaranya sendiri, Hanung Bramantyo: Wong Jogja.
Agak sedih, sih. Saya curiga, dalam film yang diproduseri Raam Punjabi (MPV Pitures) kerjasama dengan Dapur Films ini, tidak ada “pengarah dialog” untuk bagian aksen ngapaknya. Kalau saja ada Mas Indro Warkop di situ, mestinya pengucapan aksen ngapak selamat dalam menyajikan dialog “Jawa Ngapak yang Baik dan Benar”.

Seumur-umur saya belum pernah ada dengar orang Kebumen bilang “aku tresna karo rika” . Sejauh pengalaman, dalam menyampaikan rasa cinta, ya, sama lah dengan warga Jawa Wetan, hanya mengganti dengan ‘a’ “ Aku Tresna karo kowe” atau “Aku tresna karo ko’! Temenan. ”. Kata ‘ko’ merupakan penghalusan untuk ‘kowe’ (kamu) . Sedangkan ‘rika’ adalah sebutan sopan (krama madya) untuk yang lebih tua. Krama inggilnya, “njenengan”. Contoh, “janjane rika arep maring endi, Kang / Yu?” (ngoko, madya) “Saestunipun njenengan bade tindak pundi, Mas/Mbakyu?” (krama inggil)

GOWOK : “Kamasutra Jawa” dihadirkan sebagai film cerita panjang, 130 menit, dengan janji akan membawa penonton menyelami sisi eksotis dan filosofis budaya Jawa yang jarang disentuh oleh film-film mainstream. Namun disajikan dalam pesan sosial politik, penyadaran pada harkat perempuan, dan gerakan organisasi. Hanung memang bukan sekadar juara film hiburan. Deretan karyanya menegaskan itu.

Sayangnya Gowok dengan narasi yang berani, menggugah, tetap sarat nilai budaya dihadirkan dalam cerita yang rumit. Ada aroma politik 1965 juga. Ada petikan sejarah Gerwani di sana.

Dalam film ‘Gowok’ (2025) ini, kisah obsesi Nyai Santi (Lola Amaria) untuk menggowok anak anak bangsawan terwujud, dengan ilmu pergowokan yang meramu teknik dan mistis – dengan kitab panduan lengkap – dan ilmu yang mematikan.

Si bayi yang diselamatkan oleh Nyai Santi tumbuh mekar sebagai dara jelita dan ditaksir oleh anak bangsawan Raden Kamanjaya (Devano Danendra). Alih siap menikah dengan sesama ningrat, dalam proses pelatihan gowok, justru naksir dengan Ratri (Alika Jantinia), anak angkat si Gowok. Keduanya sempat mengintip ritual Nyai Santi di sungai dan air terjun, membuat keduanya kesurupan dan bercinta. Namun tak sekadar melampiasan birahi, keduanya benar benar saling jauh cinta dan memadu janji.

Tapi mereka tak boleh menikah, karena Raden Dananjaya sudah disiapkan jodohnya dan bakal jadi bupati. Mengakibatkan Ratri patah hati – mencoba bunuh diri.

Kecewa teramat sangat, gadis jelita yang semula enggan meneruskan jejak Nyai Santi membalas dengan mewarisi profesi Nyai Santi dan bertekad menjadi Gowok terpandang.

Film berdurasi 2 jam 10 menit ini masuk katogori film ‘art’ dengan muatan budaya ditayangkan perdana di Festival Film Internasional Rotterdam di Belanda untuk kategori Big Screen Competition pada Januari 2025 lalu. Beberapa shoot pemandangannya mengingatkan pada film ‘Bumi Manusia’ (2019).

Film ‘Gowok’ : Kamasutra Jawa, sedang tayang di bioskop ibukota dan sekitarnya sejak 5 Juni ini didukung aktor aktris kawakan; Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, dan Reza Rahadian.

Film mengambil lokasi di kawasan wisata air terjun Kembang Soka, di balik Bukit Menoreh – di Kabupaten Kulon Progo – 39 Km dari pusat Kota Yogyakarta. Di sinilah adegan Nyai Santi melakukan ritual untuk menyiapkan upacara “menggowok” .

Karena banyak adegan syurr, adegan sadis dan adegan bunuh diri, film ‘Gowok’ ditujukan untuk 21 tahun ke atas. (*Kop/MasTe/Lpn6)