OPINI | POLITIK | EKONOMI
“Solusi rapuh ini hanya bertahan beberapa hari, selanjutnya akan terjadi sesuai mekanisme pasar. Kembali rakyat terkapar.Itulah sistem kapitalis sangat berbeda dengan sistem Islam,”
Oleh : Karin Kurniawan, S.Pd
MUSIM penghujan telah tiba, harga cabai di pasar tradisional di Kota Medan, Sumatra Utara, mulai melonjak drastis merangkak naik. Bahkan saat ini angka kenaikannya mencapai 50 persen.
Harga perkilogramnya mencapai Rp.100.000. Kenaikan terjadi karena minimnya pasokan. Kenaikan harga sudah terjadi sejak akhir Agustus 2025, namun lonjakan terjadi 3 hari terakhir dikutip dari laman sumut.inews.id.
Pedagang di Pasar Sukaramai Medan, Sofiah (24) tahun mengatakan “Hari ini saya jual Rp95.000 per kilogram, ada juga yang sampai Rp.100.000. Tiga hari lalu masih Rp.55.000–Rp.60.000. Tapi sejak kemarin, harga ambil dari pemasok sudah Rp60.000an, jadi terpaksa kami jual lebih tinggi,” ujarnya, Selasa (9/9/2025).
Kenaikan harga cabai merah mulai dikeluhkan emak-emak di Medan. Warga Kecamatan Medan Tuntungan Indah mengeluhkan kenaikan harga cabai merah yang signifikan pekan ini. Dikutip dari laman detik.com “Harga cabai sekarang udah Rp 80 ribu per kilo di Pasar Jahe Simalingkar. Mahal kali ya harga cabai sekarang hampir mau Rp 100 ribu per kg. Kalau dulu bawa Rp 100 ribu masih dapat lah belanja yang lain, kalau sekarang habis untuk cabai aja,” ungkap Indah. Senin (8/9/2025).
Begitulah keluhan ibu-ibu dalam memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan pendapatan ekonomi keluarga tetap segitu. Melihat kondisi penanganan cabe ini, jelas terlihat bahwa tidak ada peran negara di sistem Kapitalisme.Sesuai dengan konsep ekonomi Kapitalisme, Indonesia juga berada dalam minimnya distribusi.
Sering kita jumpai bagaimana frustasinya petani sayuran karena harga yang sangat rendah atau stressnya masyarakat karena harga yang fantastis seperti cabe saat ini. Solusi menetapkan harga (baik terendah atau tertinggi) juga tak membuat masalah selesai dengan tuntas.
Solusi rapuh ini hanya bertahan beberapa hari, selanjutnya akan terjadi sesuai mekanisme pasar. Kembali rakyat terkapar.Itulah sistem kapitalis sangat berbeda dengan sistem Islam.
Islam sebagai agama sempurna memiliki aturan terbaik dengan bentuk yang sederhana tapi solutif. Inilah konsep dari ilahi yang tak terbantahkan kebenarannya dan keunggulannya. Paradigma yang dibangun adalah bahwa ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam masalah produksi dan konsumsi ini.
Pertama, bahwa sistem Islam Mendorong masyarakat untuk sebanyak-banyaknya produksi serta kebebasan mengembangkan caranya. Karena ini termasuk tekonologi yang bebas nilai untuk secara bebas dikembangkan dengan tujuan kemudahan kehidupan manusia. Islam hanya mewajibkan bahwa barang yang diproduksi adalah barang yang halal.
Kedua, negara berperan mutlak dalam hal distribusi. Negara harus memastikan setiap individu dalam masyarakat dapat mengkonsumsi kebutuhan pokoknya secara sempurna.
Dalam melaksanakan perannya, negara menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dan mudah. Mulai dari pembangunan infrastruktur baik darat, laut dan udara. Sarana transportasi yang baik dengan biaya yang murah juga akan memudahkan distribusi barang dengan cepat dan aman.
Dengan cara seperti itu, maka distribusi barang dari satu daerah yang overload produksi, misal panen raya pada sentra produksi dapat segera diangkut untuk didistribusikan ke daerah lain yang memerlukan.
Sehingga harga akan Stabil
Apakah negara tak akan rugi jika menyediakan kemudahan seperti itu? Tidak. Negara bersistem Islam tak akan berfikir untung rugi. Apalagi, tak perlu ada yang dikhawatirkan karena negara pada sistem Islam memiliki banyak pos mendapatkan yang membuatnya dapat melakukan pelayanan terbaik untuk rakyatnya.
Islam telah mewajibkan negara mengurusi rakyatnya dengan baik dengan dalil ini: “Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya.” (HR. Bukhari).
Maka kita haruslah ingat, bahwa Allah akan memberikan keberkahannya selaus langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya :
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 96).
Maka dari itu, kita membutuhkan sistem Islam bukan sistem kapitalisme, hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi secara sempurna disertai keridhoan Allah SWT. Wallahu a’lam bi Ashowab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah


















