Moral yang Hilang Menjadi Petaka

0
40

OPINI | POLITIK

“Sistem pemerintahan yang rusak dan merusak segala sesuatu karena selalu membebankan rakyat. Ketika dikritik kebijakannya langsung mengeluarkan kata-kata ‘tolol’ kepada rakyat, kalimat yang penuh kesombongan dan tak bermoral,”

Oleh : Elviana Manihuruk

TOPIK yang sedang hangat di negeri ini dan masih jadi perbincangan dan soroton di media-media juga masyarakat adalah tentang moral dan etika yang berhujung menjadi petaka.

Kita semua tahu atas kejadian yang menimpa Indonesia begitu menyayat hati, kebrutalan yang memuncak sampai tak terbendung lagi sikap rakyat terhadap penguasa pejabat elit negeri ini.

Sebelum kejadian ini sebetulnya sudah banyak para petinggi ataupun pejabat berkasus yang mengkhianati dan semena-mena terhadap aturan yang dibuat bagi masyarakat, menyakiti hati rakyat, mengejek, mengancam, mempidana sampai aparat yang menghilangkan nyawa rakyat, atas semua ini rakyat tidak lagi diam tapi melawan secara anarkis.

Akar penyebabnya secara garis besar dari semua permasalahan ini yaitu sikap para penguasa dan pejabat yang mentompang dari aturan-aturan yang dibuat serta penghianatan dari jabatan tidak lagi amanah dan profesional menjalankan tugasnya.

Belum lagi korupsi semakin menjadi-jadi, perindividu masing-masing melakukan di pemerintahan Demokrasi ini. Selalu ada peluang untuk menjadi korupsi di negeri selagi menjabat. Semua sikap penguasa tidak lagi berpihak kepada rakyat, yang katanya dari rakyat untuk rakyat semua kosong, nyatanya pengangguran masih tinggi karena lowongan pekerja terbatas, sementara kebutuhan hidup tidak bisa di tunda.

Disisi lain pejabatnya kaya raya, gaji semakin meningkat bebas berbuat apa saja, makan apa saja dari restoran ke restoran bisa tinggal pilih, pelesiran ke luar negeri, pamer barang-barang mewah dan berjoget diatas penderitaan rakyat soalah negeri ini tidak ada masalah.

Sangat tidak pantas dan menunjukkan sikap tidak empati terhadap kondisi rakyat yang tengah menghadapi kesulitan atas kebijakan mereka. Rasa muak dan benci sangat mendalam dan kecewa dengan prilaku para pejabat negara jadi wajar saja rakyat memberontak kepada pejabat.

Inilah sistem yang lahir dari Demokrasi, sistem pemerintahan yang rusak dan merusak segala sesuatu karena selalu membebankan rakyat. Ketika dikritik kebijakannya langsung mengeluarkan kata-kata ‘tolol’ kepada rakyat, kalimat yang penuh kesombongan dan tak bermoral. Inilah buah dari sistem demokrasi hukum jahiliyah modern yang disulap dengan jargon manis yang bernama kedaulatan rakyat, kebebasan dan sebagainya.

Walaupun sudah berulang kali ganti penguasa dan pejabatnya kalau sistemnya belum diganti ya sama saja tetap rusak, rakyat tetap terjebak dalam kesengsaraan, kemiskinan, ketidakadilan dan penjajahan gaya baru.

Hal ini terjadi karena akar persoalan tidak hanya terletak pada pribadi penguasa atau para pejabatnya melainkan pada Sistem yang mendasari pengaturan hidup bernegara. Selama sistem Demokrasi sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan maka hasilnya tetap sama penderitaan rakyat terus berlangsung dan jauhnya umat dari ridha Allah SWT.

Dalam Islam tujuan perubahan bukan sekedar menumbangkan rezim atau mengganti jargon melainkan menegakkan kembali aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan (kaffah). Selama Idiologi yang bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia, seperti Idiologi kapitalisme sekelur terus diterapkan dan diterapkan maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan kesempitan kehidupan di Dunia dan maraknya tindak kezaliman yang terus menerus.

Allah SWT telah berjanji bahwa keberkahan akan diturunkan jika negeri ini beriman dan bertakwa. “Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat itu, karena itu kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (TQS al-A’raf :7:96)

Karena itu negeri ini harus kembali pada hukum Allah SWT dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah yang membutuhkan institusi politik Islam yaitu khilafah. Wallahualam bishawab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah