EDUKASI
”Hingga muncul di benak kami mencari permainan tradisional yang sudah tidak lagi pernah terlihat yaitu Maccangke, hitung-hitung menjaga Warisan budaya leluhur, kami berhasil menampilkan dengan penuh penghayatan, terkenang masa kecil dulu, di tahun 80-an permainan ini masih aktif dimainkan oleh anak-anak,”
Majene | SULBAR | Lapan6Online : Dalam upaya melestarikan budaya dan tradisi lokal, SDN 55 Deteng Deteng baru-baru ini menampilkan “Maccangke”, sebuah permainan tradisional yang hampir terlupakan, pada Sabtu (30/08/2025).

Maccangke adalah salah satu warisan budaya yang kaya dan memiliki nilai-nilai positif, seperti meningkatkan kecerdasan, ketangkasan, dan kebersamaan.
Acara tersebut bertempat Di Stadion Prasamya Majene, Provinsi Sulawesi Barat yang diprakarsai oleh Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Majene dengan tema”Orientasi Kurikulum Menggali Bakat Serta Kreativitas Anak Tingkat TK, SD dan SMP”.

Permainan tradisional seperti Maccangke sangat penting untuk dilestarikan karena dapat membantu memperkuat identitas budaya bangsa dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Selain itu, permainan tradisional juga dapat menjadi sarana edukasi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak-anak.
Manfaat Permainan Tradisional
- Meningkatkan kecerdasan dan ketangkasan
- Mengembangkan kebersamaan dan kerja sama
- Melestarikan budaya dan tradisi lokal
- Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya

Kepada Lapan6Online.com, pada Ahad (31/08/2025) Kepala Sekolah SD Negeri Inpres No 55 Deteng Deteng, Muliana SPd.SD.MM., mengatakan bahwa,”Awalnya kami bersama teman teman guru mencari tarian khas mandar yang berlatar belakang permainan tradisional khas mandar namun hampir semua sudah ditampilkan oleh sekolah-sekolah lainnya,” ujar Kepsek Muliana.
Lebih lanjut ia menjelaskan,”Hingga muncul di benak kami mencari permainan tradisional yang sudah tidak lagi pernah terlihat yaitu Maccangke, hitung-hitung menjaga Warisan budaya leluhur, kami berhasil menampilkan dengan penuh penghayatan, terkenang masa kecil dulu, di tahun 80-an permainan ini masih aktif dimainkan oleh anak-anak,” jelasnya.
Permainan
Maccangke (juga dikenal sebagai Maccukke) adalah permainan tradisional Mandar yang dimainkan dengan menggunakan dua alat dari kayu atau rotan: satu alat pengungkit (indo cukke) dan satu alat yang lebih pendek (anak cukke), mirip pemukul kasti. Pemain meletakkan anak cukke di atas lubang, mengungkitnya ke udara dengan indo cukke, lalu memukulnya sejauh mungkin. Tim lawan berusaha menangkap anak cukke yang dipukul dan melemparkannya kembali untuk mengenai pemain pemukul guna mendapatkan poin.
Alat yang Dibutuhkan
Indo Cukke : Alat pengungkit panjang dari kayu atau rotan.
Anak Cukke : Alat yang lebih pendek dari kayu atau rotan, digunakan untuk dipukul.
Lubang : Dibuat di tanah sebagai tempat meletakkan anak cukke.
Area Lapang: Dibutuhkan area yang bersih dan tidak berumput dengan ruang yang cukup luas untuk berlari.
Cara Bermain
- Penentuan Tim:
Tentukan tim mana yang akan menjadi tim pengungkit dan tim penjaga terlebih dahulu. - Persiapan Alat:
Siapkan lubang di tanah dan letakkan anak cukke di atas lubang tersebut. - Mengungkit Anak Cukke:
Pemain dari tim pengungkit menggunakan indo cukke untuk mengungkit anak cukke ke udara. - Memukul Anak Cukke:
Ketika anak cukke melayang di udara, pemain memukulnya sekuat mungkin menggunakan indo cukke, mirip seperti memukul bola kasti. - Menangkap dan Melempar:
Tim penjaga berusaha menangkap anak cukke yang dipukul. - Mendapatkan Poin:
Jika tim penjaga berhasil menangkapnya, mereka akan melemparkan anak cukke kembali ke arah anggota tim pengungkit. - Skor:
Tim penjaga mendapatkan poin jika anak cukke yang dilemparkan mengenai salah satu anggota tim pengungkit. - Melanjutkan Permainan:
Permainan ini berlangsung dengan bergantian peran antara tim pengungkit dan tim penjaga.
Diakhir keterangannya KepSek Muliana mengatakan,”Dengan menampilkan Maccangke, SDN 55 Deteng Deteng berharap dapat membantu melestarikan budaya dan tradisi lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Semoga upaya ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain untuk melestarikan budaya dan tradisi lokal,” pungkasnya. (*HGDP)


















