OPINI | POLITIK | MANCANEGARA
“Kapitalisme gagal, sekularisme mandul dan sosialisme mati. Islam adalah jawaban. Khilafah adalah institusinya. Ia bukan mimpi utopis, tapi janji nubuwwah yang pasti,”
Oleh : Amrullah Andi Faisal
KETEGANGAN Mengancam Dunia Islam Ketegangan antara Iran dan entitas penjajah Zionis Israel kembali memuncak. Bukan lagi sekadar saling gertak di forum internasional atau adu pengaruh lewat tangan ketiga.
Kini, peluru telah bicara. Rudal telah diluncurkan. Darah mulai tertumpah. Dunia menyaksikan ancaman peningkatan terbuka yang nyata dan berbahaya.
Insiden terbaru pada akhir Juni 2025, ketika Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke beberapa fasilitas Iran setelah Teheran membalas rudal ke wilayah pendudukan Israel. Kini mengoyak ilusi stabilitas di kawasan.

Dunia mulai gelisah. Konflik ini bukan sekadar perang dua negara, tapi bara yang bisa menjalar, membakar kawasan dan menyalakan krisis global. Apa yang terjadi jika Selat Hormuz ditutup? Apa jadinya bila harga energi melonjak liar? Siapa paling menderita kalau umat terus tercerai?
Konflik ini penting ditelaah dalam pandangan Islam. Bukan hanya soal siapa lawan siapa, tapi menyangkut akidah, ukhuwah dan peran umat dalam sejarah. Yang lebih mendesak, sudah saatnya solusi hakiki kembali ditegakkan, yakni Khilafah Islamiyah sebagai institusi politik global umat Islam.
Akar Konflik
Perseteruan Iran dan Israel adalah konflik besar yang akarnya dalam. Ia bersumber dari penjajahan tanah suci Palestina oleh entitas Zionis, hasil persekongkolan kolonialisme modern pasca Perang Dunia II. Setelah Revolusi Iran 1979, Teheran menentang keras keberadaan Israel, serta menjadi pendukung utama kelompok perlawanan di Palestina dan Lebanon.
Iran memandang konflik ini bukan sekadar masalah geopolitik biasa, tetapi sebagai perlawanan terhadap pendudukan dan penindasan yang dialami rakyat Palestina. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap dominasi Barat dan pembelaan atas hak-hak kaum tertindas.
Sementara bagi Israel dan sekutunya, Iran adalah ancaman eksistensial karena ambisi nuklirnya dan hubungan dekatnya dengan Hamas dan Hizbullah.

Namun yang harus diakui, konflik ini selalu dimanfaatkan kekuatan besar, terutama Amerika Serikat. Ia berdiri di belakang Israel, menyuplai senjata, veto resolusi dan melindunginya di panggung internasional. Sebaliknya, negeri-negeri Muslim banyak yang hanya menjadi penonton, bahkan sebagian telah menormalisasi hubungan dengan Zionis. Sungguh ironi.
Akar persoalan yang paling mendalam adalah absennya institusi pemersatu umat. Khilafah Islamiyah seharusnya menjadi pelindung darah, kehormatan dan tanah kaum Muslimin. Tapi hari ini, dunia Islam tercerai-berai, tanpa perisai, tiada perintah tunggal, nihil visi yang lurus.
Lembaga internasional seperti Persatuan Bangsa Bangsa dan Mahkamah Internasional terbukti mandul, berpihak pada kekuatan imperialis, serta tidak mampu menghentikan kezaliman.
Dampak Konflik Meluas
- Gejolak Kawasan dan Krisis Energi
Timur Tengah adalah nadi pasokan energi dunia. Selat Hormuz mengalirkan 20% ekspor minyak global. Ketegangan di sana membuat harga minyak menembus $100 per barel pada 1 Juli 2025. Ini mengguncang pasar dunia, menekan ekonomi negara berkembang, serta menunjukkan rapuhnya sistem energi global. Indonesia dengan ketergantungan tinggi pada impor energi, salah satu yang paling rentan. - Tragedi Kemanusiaan
Konflik bersenjata selalu menelan korban sipil. Ribuan orang mengungsi dari Gaza, Lebanon Selatan dan perbatasan Suriah–Israel. Iran juga mencatat puluhan korban jiwa akibat serangan balasan AS, yang melanggar hukum internasional. Tragedi ini bisa meluas. Tapi dunia hanya menonton dan PBB diam. Dunia Barat pura-pura buta. - Perpecahan Umat dan Perang Narasi
Musuh-musuh Islam terus beraksi. Mereka meniupkan racun sektarian, giring opini seolah ini hanya perselisihan politik antarnegara. Mereka ingin kaum Muslimin sibuk saling mencurigai, sementara tanah Palestina terus digerus dan Baitul Maqdis masih terjajah. Apakah kita akan terus terpecah dan tertipu? - Guncangan Ekonomi Nasional
Indonesia dan negeri berkembang lain merasakan imbas langsung. Kenaikan harga bahan bakar minya pada 1 Juli 2025 sampai Rp590 per liter membuktikan rapuhnya ekonomi kapitalis menghadapi gejolak luar. Inflasi melonjak. Biaya hidup mencekik. Rakyat kecil jadi korban. Sistem ekonomi global telah gagal. Sudah waktunya diganti.
Solusi Fundamental
Dunia ini tengah tenggelam dalam kezaliman sistemik dan ketimpangan global. Kapitalisme gagal, sekularisme mandul dan sosialisme mati. Islam adalah jawaban. Khilafah adalah institusinya. Ia bukan mimpi utopis, tapi janji nubuwwah yang pasti. Maka, bukan hanya mungkin, tapi wajib diwujudkan!
- Kepemimpinan Tunggal yang Menyatukan
Khilafah akan menghapus batas-batas warisan kolonial, yang menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan lurus. Tiada lagi nasionalisme sempit, ukhuwah Islamiyah ditegakkan. - Kekuatan Militer yang Melindungi
Militer umat Islam, yang kini tercerai dan terpecah, akan dipersatukan. Wilayah-wilayah terjajah akan dibebaskan. Kehormatan umat akan dijaga. - Politik Luar Negeri Berbasis Syariat
Diplomasi Khilafah bukan untuk tunduk pada Barat, tapi menjaga kemuliaan Islam, membela yang tertindas, serta menantang dominasi kekuatan kufur. - Ekonomi Islam yang Mandiri
Khilafah akan mengelola sumber daya alam secara adil. Tiada lagi liberalisasi energi atau ketergantungan pada dolar. Ekonomi dibangun atas asas halal, produktif dan adil. - Perlindungan bagi Minoritas
Dalam sejarah Khilafah, warga kafir hidup damai sebagai dzimmi. Mereka dijamin hak hidup, ibadah dan harta. Ini sangat kontras dengan kondisi minoritas Muslim hari ini di India, Myanmar dan Tiongkok.
Kewajiban Umat
Enam kewajiban umat melihat realitas ini. Pertama, jaga persatuan dan solidaritas. Jangan biarkan isu mazhab memecah belah barisan. Kita adalah satu umat. Musuh kita jelas: imperialisme dan Zionisme.
Kedua, bela yang tertindas. Bantu rakyat Palestina dan Muslim di wilayah konflik. Dengan doa, bantuan materi dan sikap politik yang tegas.
Ketiga, tingkatkan kesadaran politik Islam. Pandang konflik ini dengan kacamata syariat. Jangan larut dalam narasi media Barat. Pahami siapa kawan dan siapa lawan.
Keempat, kuatkan ekonomi umat. Bangun kemandirian lewat pertanian, perdagangan dan usaha berjamaah. Jangan bergantung pada sistem kapitalis global.
Kelima, berjuang menegakkan khilafah. Ini bukan opsional, tetapi fardhu. Kita diinjak dan dihina terus tanpa Khilafah.
Keenam, berdoa dan tawakkal. Doa adalah senjata. Mohonlah kepada Allah agar menolong umat ini dan mengembalikan Khilafah yang mulia.
Penutup
Perang Israel–Iran adalah cermin dari dunia tanpa pelindung, perisai dan Khilafah. Setiap darah Muslim yang tertumpah adalah jeritan untuk keadilan. Setiap rudal yang meluncur adalah seruan agar umat bersatu.
Apakah kita akan terus diam? Apakah kita rela melihat Al Quds tetap dijajah?
Sudah saatnya kita bangkit, bersatu dan bergerak menyambut janji Allah dan bisyarah Rasulullah ﷺ. “Sebenarnya khalifah itu seperti tameng, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” Hadis sohih Riwayat Muslim. (**)
*Penulis Adalah Statistisi Ahli dan Kolumnis di Sinjai

















