Pilu Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di NTT

0
60
Saimariah Harahap/Foto : Ist.

OPINI | HUKUM | POLITIK

“Apakah memang betul dikarenakan tidak bisa membeli alat tulis ataukah ada faktor lain yang menyebabkan kan anak itu bunuh diri Dari melihat isi surat tersebut bisa terjadi adanya suatu tekanan amarah dari orang tua,”

Oleh : Saimariah Harahap

TERUNGKAP YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

Semasa hidup, YBR tinggal bersama neneknya di pondok kecil nan reot. Pondok bambu di kebun sunyi itu berukuran sekitar 2×3 meter. Pondok panggung itu menjadi saksi kehidupan sederhana YBR (10) sebelum ditemukan tewas. Sejak usia 1 tahun 7 bulan, YBR hidup terpisah dari ibunya.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat si ibu harus membagi perhatian untuk lima anak. YBR kemudian tinggal bersama neneknya, yang kini berusia sekitar 85 tahun, di pondok kecil milik keluarga di kebun, berbeda desa dengan ibunya. Dilansir datiknews, pada Rabu (04/02/2026).

Anak usia 10 tahun yang masih duduk dibangku sekolah dasar sudah terpikir untuk bunuh diri, apakah memang betul dikarenakan tidak bisa membeli alat tulis ataukah ada faktor lain yang menyebabkan kan anak itu bunuh diri Dari melihat isi surat tersebut bisa terjadi adanya suatu tekanan amarah dari orang tua disebabkan hempitan ekonomi sehingga mempengaruhi kondisi psikologis anak tersebut.

Anak yang masih dibawah umur itu belum bisa memahami masalah perekonomian orang tua, setiap anak pasti berpikir bahwa orang tua bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari baik itu dalam bidang pendidikan maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi kebanyakan orang tua tidak memberikan pemahaman yang baik terhadap anak dan tidak pernah memberikan respon yang baik terhadap anaknya.

Tekanan ekonomi yang berkepanjangan selalu membuat orang tua mudah emosi dan tegang terhadap situasi, apalagi berhadapan dengan anak yang masih banyak kebutuhan yang belum bisa dipenuhi, sehingga mudah melupakan semua amarahnya terhadap anak, dan sebagai anak yang masih kanak-kanak pasti akan berkepikiran bahwa dirinya hanyalah beban untuk keluarga nya sehingga dia berfikir bahwa dengan tiadanya dia didalam keluarga pasti akan baik-baik saja.

Seharusnya keluarga, tetangga dan pihak sekolah lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak, karena bisa menjadi tanda peringatan dini. Kehadiran emosional yang stabil dan konsisten sangat penting agar anak memahami bahwa persoalan hidup adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan beban mereka.

Dari peristiwa ini sudah jelas bahwa negara sudah gagal dan abai dalam memberi perlindungan terhadap anak, terutama dalam kedisiplinan dan pendidikan. Bukankah negara sudah memberikan pendidikan gratis, tapi kenapa masih ada anak didik yang diminta uang sekolah, kemana dana pendidikan ini? Negara terlalu banyak menuntut anak untuk menjadi generasi unggul, tetapi tidak mampu menyediakan fasilitas dasar untuk hidup layak.

Disaat khilafah masih tegak, khilafah menjamin kebutuhan pokok seluruh warga, dan memastikan seluruh warga tidak ada yang tidak terpenuhi baik itu masalah kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan.

Mekanisme yaitu:
1. Khilafah mewajibkan laki-laki untuk bekerja, khilafah menyediakan lapangan kerja warganya.
2. Bagi warga yang tidak wajib bekerja baik para wanita, yang tidak mampu lagi bekerja maka dia dinafkahi oleh yang punya kewajiban untuk menafkahi.
3. Bila tidak punya keluarga yang mampu menafkahi, maka khilafah wajib untuk menyantuni. Untuk kebutuhan pokok berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan, khilafah menyediakan secara langsung layanan pendidikan, kesehatan, kenyamanan secara cuma-cuma.

Khilafah adalah sistem yang benar dan lurus akan seluruh aturan hidup. Aturan Islam yang bisa mengatasi seluruh problematika umat saat ini. Jika sistem Islam diterapkan bukan hanya umat Islam saja yang makmur tetapi seluruh umat manusia akan sejahtera dan jauh dari kesengsaraan, karena Islam adalah aturan yang sangat sempurna karena bersumber dari Al-Qur’an dan hadits. Wallahu a’lam bishawab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah