OPINI | POLITIK
“Di sistem sekarang ini seharusnya kita sebagai rakyat seharusnya sudah mulai berpikir bahwa negara kita ini sudah tidak sehat lagi, karena semua peraturan yang diberikan itu tidak pernah meringankan rakyat nya bahkan selalu menindas rakyat yang lemah yang tidak memiliki modal sama sekali,”
Oleh : Saimariah Harahap
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan tanggapan terkait video viral yang memperlihatkan ribuan motor listrik berlogo BGN yang disebut-sebut diperuntukkan bagi SPPG di Jawa Barat.
Dalam video tersebut tampak sejumlah besar motor listrik tersusun di dalam gudang luas. Pembuat konten menyebut jumlahnya mencapai 70 ribu unit dan diklaim dialokasikan khusus untuk wilayah Jawa Barat.
Menanggapi hal tersebut, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa pengadaan motor listrik tersebut merupakan bagian dari anggaran tahun 2025. Kendaraan itu direncanakan untuk menunjang operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pengadaan motor ini memang masuk dalam anggaran 2025. Fungsinya untuk mendukung operasional Kepala SPPG,” ujar Dadan dalam siaran pers, dilansir dari detikNews, Selasa (7/4/2026).
Program Makan Satuan Bergizi (MBG), ini masih beroperasional kurang lebih 1 tahun tetapi tunjangan dan penghargaan sudah banyak direncanakan, tujuannya supaya para pegawai semakin rajin dan terjamin sehingga tidak ada kendala dalam menjalankan tugasnya. BGN menjelaskan motor tersebut bertujuan mendukung operasional Kepala SPPG dalam mendistribusikan makan bergizi, terutama untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses.
Herannya adakah menteri pendidikan atau pemerintah yang memperhatikan guru honorer yang gajinya masih jauh dibawah gaji pegawai MBG. Gaji guru honorer perbulan itu masih ada Rp.500.000 bahkan masih ada juga dibawah yakni Rp.200.000, kenapa guru sering kali tidak pernah diperhatikan gajinya, padahal menjadi seorang guru itu sangat berat kali tugas dan tanggungjawabnya, karena guru berpikir terus bagaimana harus anak-anak ini bisa pintar berprestasi dan bisa menjadi anak-anak sukses dan berakhlak.
Dan tugas berat ini harusnya dipikul juga oleh negara bukan swasta. Karena itu negara harus benar-benar serius dalam mengambil tanggung jawab ini, dan mengatur sistem keuangan yang baik tanpa harus menggantungkan diri kepada utang dan jerat sistem ekonomi kapitalis yang ribawi.
Sementara pegawai MBG ini tidak begitu penting bagi pendidikan, masalah makanan bergizi tidak harus dari makanan Makan Bergizi Gratis (MBG), mungkin setiap orang tua pasti berusaha memenuhi gizi terhadap anaknya, bisakah Makan Bergizi Gratis (MBG)ini diganti ke uang saja, karena apabila dijadikan uang kan bisa uang tersebut diberikan kepada orang tuanya dan bisa dibelikan untuk kebutuhan anak-anaknya.
Tetapi tidak heran didalam sistem kapitalis sekuler ini. Negara seringkali bertindak sebagai pengatur yang abai terhadap kebutuhan dasar umat dan lebih memihak pada pemilik modal (kapitalis). Di sistem sekarang ini seharusnya kita sebagai rakyat seharusnya sudah mulai berpikir bahwa negara kita ini sudah tidak sehat lagi, karena semua peraturan yang diberikan itu tidak pernah meringankan rakyat nya bahkan selalu menindas rakyat yang lemah yang tidak memiliki modal sama sekali.
Sementara didalam Islam pada Pada masa Nabi dan para sahabat, pemberian makanan dilakukan secara langsung oleh individu atau komunitas kecil dengan motivasi spiritual. Tidak ada sistem birokrasi atau program terstruktur; segala sesuatu didasarkan pada rasa tanggung jawab pribadi dan kolektif.
Misalnya, Nabi dan para sahabat memberikan makanan kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang sosial atau politik. Tetapi tidak heran didalam sistem kapitalis sekuler ini. Negara seringkali bertindak sebagai pengatur yang abai terhadap kebutuhan dasar umat dan lebih memihak pada pemilik modal (kapitalis).
Pada masa Abbasiyah gaji guru bisa mencapai 1000 dinar/tahun, Bahkan pada masa Umar bin Khaththab saat menjadi khalifah, gaji guru bisa mencapai 15 dinar/bulannya. Ini menunjukkan perhatian yang sangat tinggi kepada pendidikan. Dan pada masa Harun Ar-Rasyid sebagai khalifah, gaji guru bisa mencapai 2000 dinar dan para ahli hadits dan fikih bisa 4000 dinar. Jika dikonversikan ke mata uang saat ini, dengan asumsi harga emas murni per gram sekitar Rp1.500.000 dan 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas, maka gaji guru pada masa itu bisa mencapai miliaran rupiah per tahun.
Semua itu dapat dilakukan karena pengelolan keuangan negara yang baik dengan sumber daya alam yang tak terbatas menjadi pendapatan negara. Pemasukan lainnya dari kharaj dan usyriyah, harta fai yang dikelola baitulmal menjadikan negara sangat makmur sehingga rakyatnya bisa hidup sejahtera, tanpa harus takut dengan profesinya.
Dan tujuan dari ekonomi Islam sendiri adalah untuk kesejahteraan umat dan keadilan, di sinilah pentingnya peran negara menjadi pengatur yang adil. Sehingga distribusi kekayaan pun sesuai syariat dan kebutuhannya, contohnya pada masa Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah. Dari Abu Hurairah Nabi saw. bersabda,
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll). “Wallahu ’alam bish-shawab”. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah














