OPINI | POLITIK
“Sudan berdarah-darah perang saudara menewaskan ribuan warga sipil di sana. Konflik yang terjadi antara Jendral Abdel Fattah al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagola atau Hamedti dari pasukan Rapid Support Forces (RSF) menjadi perang besar si sejumlah wilayah,”
Oleh : Saimariah Harahap
SEJUMLAH pria tertawa lepas saat mobil pikap yang mereka tumpangi melaju kencang melewati deretan sembilan mayat yang terbaring di jalanan Sudan. “Lihat semua ini. Lihat genosida ini,” teriak salah satu dari mereka sambil tertawa. Ia mengarahkan kamera ke wajahnya dan rekan-rekannya.
Lambang Rapid Support Forces (RSF) tampak jelas tersemat di pakaian mereka. “Mereka semua akan mati seperti ini,” ujarnya sembari menenteng senjata api. Para pria itu sedang merayakan pembantaian yang menurut pejabat lembaga kemanusiaan, dikhawatirkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Kota el-Fasher, Sudan, bulan lalu.
Pada Senin (03/11) lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengumumkan penyelidikan bahwa pasukan paramiliter tersebut diduga telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
El-Fasher menjadi target utama RSF. Kota itu merupakan benteng terakhir militer Sudan di Darfur, wilayah yang telah menjadi medan perang antara tentara pemerintah dan RSF sejak koalisi pemerintahan yang mereka bangun pecah pada 2023. Selama dua tahun terakhir, konflik tersebut menelan lebih dari 150.000 korban jiwa.
Kedua pihak sama-sama dituduh melakukan berbagai kejahatan perang. Aksi tersebut banyak yang kembali terulang setelah el-Fasher jatuh.
Citra satelit menunjukkan bahwa tentara pemerintah mulai membangun benteng besar dari gundukan pasir yang ditinggikan di sekeliling el-Fasher, menutup jalur akses dan menghalangi bantuan. Pada awal Oktober, cincin itu sepenuhnya telah mengelilingi kota. Penghalang yang lebih kecil melingkari desa di sekitarnya.
BBCCitra satelit yang diberi penanda untuk menunjukkan gundukan pasir yang mengelilingi el-Fasher. Ketika pengepungan semakin intensif, 78 orang tewas dalam serangan RSF terhadap sebuah masjid pada 19 September, dilansir BBC Verify, pada Ahad (9/11/ 2025 ).
Sudan berdarah-darah perang saudara menewaskan ribuan warga sipil di sana. Konflik yang terjadi antara Jendral Abdel Fattah al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagola atau Hamedti dari pasukan Rapid Support Forces (RSF) menjadi perang besar si sejumlah wilayah.
Perang yang terjadi di Sudan ini hampir sama dengan yang terjadinya di Palestina, bedanya hanya saja Palestina dijajah oleh kaum Zionis Israel dan dibantu oleh para Negara terkuat yaitu Amerika Serikat, yang mana antara dua negara saling membantu untuk memperebutkan tanah Palestina.
Sedang perang yang saat ini yang terjadi di Sudan ini adalah perang yang dilakukan oleh pemimpinnya sendiri. Yang mana para pemimpin ingin memperebutkan kekuasaan demi kepentingan pribadi tanpa memikirkan rakyat yang dipimpinnya. Perang besar ini terjadi dan berubah menjadi pembantaian terhadap warga sipil.
Mirisnya pembantaian di Sudan ini sangat prihatin yang mana para militer membantai anak-anak yang tidak tau akar permasalahan dan orang tua yang sudah tidak berdaya di bantai bahkan diusir secara paksa. Bahkan sampai anak-anaknya dikubur secara hidup-hidup.
Dibalik konflik pembantaian di Sudan antara perebutan kekuasaan, ada peran asing (Barat) yakni Amerika Serikat dan Inggris yang membantu mengadu domba rakyat dan pemerintahan di Sudan.
Sudan adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa dan Sudan juga memiliki cadangan minyak lebih dari 3 miliar barel. Cadangan emasnya juga mencapai 1.550 ton. Sudan juga memproduksi getah Arab yang digunakan dalam industri makanan dan kimia. Maka tidak heran kalau para pemimpinnya dan para negara lain sangat tertarik untuk memperebutkan tanah yang kekayaan alamnya sangat bagus dan kaya.
Sebagian besar emas Sudan mengalir kepasar Dubai dan jadi sumber dana utama milisi RSF. Makanya banyak negara yang ikut masuk ke wilayah Sudan : UEA, Arab Saudi, Mesir, AS, Inggris, Rusia itu semuanya hanya untuk kepentingan.
Pembantaian belum berhenti, bukan hanya di Sudan tetapi di Gaza, Suriah dan negeri-negeri Muslim yang tertindas gara-gara ambisi elit global. Umat Islam sekarang sudah seperti tidak punya perisai. Terpecah, lemah dan cuma bisa diam tanpa mencari solusi atau memberikan bantuan.
Sabda Rasulullah saw. : Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti). (HR al-Bukhari)
Kejadian pembantaian ini tidak akan pernah terjadi seandainya umat masih mamiliki pelindung yang ditakuti oleh para penjajah. Yakni Khilafah Islamiyyah.
Khilafah adalah perisai bagi seluruh umat nya. Sebagaimana sabda Nabi Saw : “Sesungguhnya imam (khilafah) adalah perisai; orang-orang yang berperang dibelakangnya dan berlindung kepada dirinya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tapi kenyataannya hingga saat ini tanpa adanya Khilafah penderitaan umat tidak akan ada akhirnya. Rakyat dan kepemimpinan di negara Muslim masih berharap dan percaya kepada pihak-pihak asing untuk bisa membantu persoalan yang telah terjadi, padahal akar dari persoalan yang terjadi di tengah umat saat ini itu semuanya berasal dari pihak asing yaitu dari Barat.
Padahal jalan untuk membangkitkan umat Islam di negeri-negeri Muslim ini yaitu hanya butuh bersatu nya seluruh umat Muslim untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam. Persatuan yang berdiri diatas satu akidah, bukan kepentingan dunia, negara yang menerapkan hukum-hukum sesuai syariat melindungi umat dan melawan kedzaliman. Wallahu a’lam bi ash-shawaab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah


















