Gaza, Tanah yang berdarah!

0
29
Ilustrasi/Net

OPINI | POLITIK | MANCANEGARA

“Gaza juga dilanda kelaparan yang semakin parah, yang menambah jumlah korban. Suara yang berbeda disampaikan oleh pendukung utama persenjataan Israel. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump,”

Oleh : Nurzihan

MASYARAKAT internasional mengecam rencana Israel untuk menduduki Jalur Gaza, karena hal ini akan memperburuk konflik dan menambah pertumpahan darah.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada hari Sabtu (9/8/2025), menyatakan bahwa rencana pendudukan Israel adalah sebuah eskalasi berbahaya yang mengancam keselamatan rakyat Palestina. Hingga hari Jumat (8/8/2025), diperkirakan lebih dari 60.000 orang telah tewas di Gaza akibat serangan Israel sejak perang Israel-Hamas dimulai.

Sebagian besar dari korban adalah perempuan dan anak-anak. Gaza juga dilanda kelaparan yang semakin parah, yang menambah jumlah korban. Suara yang berbeda disampaikan oleh pendukung utama persenjataan Israel. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump,

menyatakan bahwa fokusnya hanya akan pada bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. “Langkah lebih lanjut Israel di Gaza terserah kepada mereka,” kata Trump. Ia juga menjelaskan bahwa AS telah menyumbang 60 juta dollar AS untuk bantuan kemanusiaan di Gaza. Pada hari Kamis (7/8/2025), Trump justru mendorong negara-negara Arab untuk segera membuka hubungan diplomatik (kompas.id, 09 Agustus 2025).

“Saya bersumpah demi Tuhan bahwa saya telah menghadapi kematian sekitar 100 kali, jadi bagi saya, lebih baik mati di sini,” tegas Ahmed Hirz, yang telah mengungsi bersama keluarganya setidaknya delapan kali sejak perang Israel dimulai. “Saya tidak akan pernah pergi dari sini,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Kami telah melalui penderitaan, kelaparan, penyiksaan, dan kondisi yang menyedihkan, dan keputusan akhir kami adalah mati di sini” (SINDOnews.com, Sabtu, 09 Agustus 2025).

Permasalahan Gaza bukanlah isu yang baru, melainkan telah berlangsung lebih dari 75 tahun. Gaza telah dijajah oleh Israel. Konflik antara Israel dan Palestina masih berlanjut hingga saat ini, dengan berbagai upaya diplomasi dan perundingan yang belum membuahkan hasil yang signifikan. Gaza tetap menjadi pusat konflik, dengan penduduknya menghadapi kesulitan hidup yang parah akibat blokade dan serangan militer.

Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang berperan dalam menyelesaikan masalah ini. Solusi-solusi yang ditawarkan kepada negara belum ada yang mampu menyelesaikan konflik ini. Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengevakuasi penduduk Gaza Palestina, termasuk ke Indonesia. Namun, solusi ini tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada, bahkan justru memudahkan zionis untuk merebut tanah Gaza Palestina.

Seharusnya, jika negara-negara Islam bersatu dan melawan zionis, akan lebih mudah bagi penduduk Gaza Palestina untuk terbebas dari penjajahan ini.

Sangat menyedihkan, semua tragedi ini terus berlanjut tanpa ada yang mampu menghentikannya. PBB hanya bisa berteriak meminta zionis untuk menghentikan kekejamannya, tetapi veto dari Amerika membuatnya tidak berdaya dan justru membuat zionis semakin angkuh.

Sungguh, mereka benar-benar lupa bahwa setiap nyawa yang hilang dan darah yang menetes dari umat yang tidak bersalah di Gaza Palestina, kelak di akhirat harus mereka bayar dengan penyesalan yang sangat panjang. Mereka juga lupa bahwa setiap tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua, serta perempuan-perempuan yang kehilangan keluarga tercinta, akan meminta pertanggungjawaban.

Hal ini sangat berbeda jauh dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Mereka selalu hadir, bahkan berpartisipasi tidak hanya sebagai pengurus, tetapi juga sebagai penjaga. Mereka benar-benar bertindak seperti penggembala yang memastikan setiap rakyatnya mendapatkan kebutuhan dan kesejahteraannya.

Jangankan urusan nyawa, siapa pun yang berani melanggar kehormatan rakyatnya harus siap menghadapi pembelaan yang tegas terhadap pemimpin Islam, bahkan jika perlu, tentara pun siap untuk dikerahkan kapan saja diperlukan.

Oleh karena itu, solusi yang seharusnya dituntut oleh masyarakat dunia adalah pengusiran zionis dari setiap tanah Gaza Palestina. Namun, masalahnya adalah pengusiran tersebut tentu memerlukan pengerahan tentara dan senjata yang hanya dapat dilakukan oleh sebuah negara. Negara yang dimaksud bukanlah negara biasa, melainkan negara yang siap untuk menentang Amerika dan semua sekutunya.

Negara semacam itu hanya terdapat dalam ajaran Islam. Itu adalah Khilafah, sebuah negara yang akan mengintegrasikan seluruh potensi umat Islam di seluruh dunia. Oleh karena itu, masalah Gaza-Palestina bagi umat Islam bukan sekadar masalah kemanusiaan.

Namun, ini merupakan masalah hukum syarak dan masalah iman karena di dalamnya terdapat perintah dan larangan, termasuk berkaitan dengan pembelaan terhadap sesama umat Islam. (**)

*Penulis Adalah Mahasiswi USU