Hari Santri : Momen Aktivasi Santri sebagai Agen Perubahan

0
17
Vanissa Maudiya/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Terlebih serangkaian acara yang diadakan tidak benar-benar menekankan pada peran santri sebagai sosok yang fakih fiddiin dan agen perubahan. Yang lebih menyedihkan lagi, pujian soal peran santri dalam jihad melawan penjajah di masa lalu tidak sejalan dengan berbagai kebijakan dan program menyangkut santri dan pesantren di masa kini,”

Oleh : Vanissa Maudiya, SS

HARI Santri mendapat banyak perhatian publik dengan serangkaian seremonial, mulai dari upacara, kirab, membaca kitab sampai festival sinema. Di Palembang misalnya, perayaan Hari Santri bertajuk Pesantren Expo 2025 digelar.

Berbagai lapisan masyarakat turut meramaikan acara tersebut (dilansir dari RRI.co.id). Tema tahun ini adalah”Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Presiden Prabowo Subianto mengajak para santri menjadi penjaga moral dan pelopor kemajuan.

Beliau menyinggung tentang Resolusi Jihad yang dipelopori oleh ulama sekaligus tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.Bahkan dalam sebuah kesempatan, Presiden Prabowo turut mengumumkan langkah konkret pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan berbasis pesantren. Beliau menyatakan telah merestui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kementerian Agama.

Kendati riuh perayaan Hari Santri yang bergema seantero negara, momen tersebut hanya sebatas seremonial belaka. Terlebih serangkaian acara yang diadakan tidak benar-benar menekankan pada peran santri sebagai sosok yang fakih fiddiin dan agen perubahan. Yang lebih menyedihkan lagi, pujian soal peran santri dalam jihad melawan penjajah di masa lalu tidak sejalan dengan berbagai kebijakan dan program menyangkut santri dan pesantren di masa kini.

Santri justru dimanfaatkan untuk menjadi agen moderasi beragama dan agen pemberdayaan ekonomi. Sungguh sangat jauh dari hakikat santri itu sendiri. Selain itu, santri tidak diarahkan memiliki visi dan misi jihad melawan penjajahan gaya baru yang tidak kalah mengkhawatirkan dengan perang dalam makna yang sebenarnya.

Ialah perang ideologi atau perang pemikiran. Tidak ada upaya bahkan cenderung mencegah umat dari terjaganya mereka dengan syariat. Peran strategis santri dan pesantren justru dibajak untuk kepentingan mengokohkan sistem sekuler kapitalisme, yang tidak lain adalah musuh besar umat Islam.

Santri seharusnya berperan penting dalam upaya menjaga umat serta mewujudkan peradaban yang cemerlang yaitu mereka yang fakkih fiddin dan menjadi pelopor dalam menegakkan syariat. Yang kelak akan menjadi ulama yang bukan hanya cerdas dalam urusan agama namun juga urusan duniawi. Dan memang sejatinya begitulah pendidikan dalam Islam, tidak membedakan antara dunia dengan agama.

Karena umat ini justru akan bangkit secara hakiki jika mereka mengemban agama mereka dengan benar, sesuai dengan yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad saw. Tetapi perlu diketahui bahwa ada peran penting negara dalam memastikan tertanamnya visi misi yang benar diantara para santri.

Sebab negara menjadi penanggungjawab utama untuk mewujudkan eksistensi pesantren dengan visi mulia mencetak para santri yang siap berdiri di garda terdepan melawan penjajahan dan kezaliman. Wallahu’alam bishowab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah