OPINI | POLITIK
“Pemuda cenderung memiliki emosi yang masih labil. Namun, jika diarahkan dengan baik, mereka justru lebih mudah berubah dan berkembang. Pada masa ini, pemuda fokus pada eksplorasi diri serta pencarian identitas. Hal ini memiliki sisi positif dan negative,”
Oleh : Aktif Suhartini, S.Pd.I.
SETIAP orang tua pasti berharap dan mendambakan agar anak muda sebagai penerus generasi dapat memiliki peran positif, terutama jika ia memiliki potensi dan diarahkan ke jalan yang benar. Jika dikaitkan dengan kebangkitan umat, maka jelas umat tidak akan bangkit apabila para pemudanya sendiri tidak bangkit.
Masa muda adalah fase penting yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat, apakah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat atau justru sebaliknya.
Masa muda yakni masa ketika seseorang berada dalam puncak kekuatan, semangat, dan kemampuan. Dalam sebuah hadits disebutkan, salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya adalah syaabun nasha-a fi ‘ibadatillah, yaitu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.
Pemuda seharusnya memiliki karakteristik yang berbeda dari orang tua, karena mereka memiliki keberanian untuk mengambil risiko. Hal ini dapat kita lihat dalam kisah Ashabul Ukhdud, yaitu pemuda yang berani mempertaruhkan nyawanya demi tersebarnya dakwah dan tegaknya kebenaran. Keberanian seperti ini adalah ciri khas para pemuda beriman yang tidak gentar menghadapi tantangan.
Berbeda halnya dengan orang tua kadang mempertimbangkan terlalu banyak hal yang akhirnya tidak melakukan apa-apa. Seperti ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Ali, Man aksara nadzra fil ‘awāqib lam yasju, yang artinya, “Barang siapa terlalu banyak memikirkan risiko, ia tidak akan berani melakukan apa pun.” Pemuda biasanya tidak demikian.
Mereka lebih berani melangkah, lebih cepat mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi tantangan. Inilah energi pemuda yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan perubahan dan kebangkitan umat.
Pemuda cenderung memiliki emosi yang masih labil. Namun, jika diarahkan dengan baik, mereka justru lebih mudah berubah dan berkembang. Pada masa ini, pemuda fokus pada eksplorasi diri serta pencarian identitas. Hal ini memiliki sisi positif dan negatif.
Ketika diarahkan pada jalan yang benar, potensi mereka akan berkembang jauh lebih baik. Berbeda dengan usia tua yang biasanya memiliki pola pikir yang lebih sulit diubah, pemuda justru masih sangat fleksibel dan penuh energi.
Setiap pemuda mestinya menyadari pentingnya memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar tentang kebangkitan umat. Setelah itu, mereka perlu berupaya menyebarkan pemikiran tersebut agar masyarakat dapat bangkit bersama. Untuk itu, seorang pemuda perlu bersiap mendalami ajaran Islam, mengamalkannya, serta menyampaikannya, sebagaimana para sahabat yang sudah berdakwah sejak usia muda.
Pemuda memiliki potensi besar untuk melakukan perubahan hakiki. Semangat yang menyala dan cara berpikir idealis merupakan modal penting untuk mendobrak kejumudan. Jika pemahaman mereka lurus sesuai ajaran Islam, maka perubahan yang benar akan dapat diwujudkan. Mereka adalah generasi terbaik, harapan untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah.
Memang kita meyakini bisyarah Rasulullah pasti akan terwujud. Namun, bukan berarti kita diam dan hanya menunggu. Kita harus terus berupaya dan berkontribusi melalui dakwah. Perjalanan ini mungkin melelahkan, tapi yakinlah kesungguhan hati dalam memperjuangkan kehidupan Islami akan dibalas dengan sebaik-baik balasan dari Allah SWT.
Kita perlu percaya kejayaan Islam akan terwujud pada waktunya, dan setiap orang berperan untuk ikut mendekatkannya melalui dakwah dan amal saleh.
Kehidupan islami yang kita dambakan akan segera terwujud. Allahhu Akbar. Kehidupan yang menumbuhkan kebaikan dan mengantarkan kita pada ridha Allah SWT. Marilah kita bersemangat, karena mereka yang berjuang untuk mewujudkannya akan memperoleh amal jariah yang terus mengalir, meski jasadnya telah tiada. (**)
*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


















